Pendidikan Karakter Anak Model Rasulullah

Pendidikan Karakter Anak Model Rasulullah

Penulis: Ustadzah Nadiyatul Wasiah, Staff Pengajar di Quran Learning Centre Kids

Allah memberikan gelar kepada kepribadian Rasulullah dengan sebutan mahluk yang punya budi pekerti yang agung. Hal ini sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an (QS. Al-Qalam: 4) 

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung

 

Gelar manusia berbudi pekerti agung ini pantas disandang oleh Rasul mengingat rasul adalah model atau teladan bagi umat Islam, dan kepribadian yang ditampilkan oleh Nabi tersebut merupakan pengejawantahan isi dan pesan yang terkandung dalam al-Qur`an, sehingga kaum muslimin seolah-olah memahamai gerak-gerik nabi sama seperti kaum muslim memahami isi dan pesan yang terkandung dalam al-Qur`an, kitab petunjuk kehidupan bagi kaum muslimin. 

Allah memberikan perintah kepada umat Islam dengan menjadikan Rasulullah sebagai modelnya. Umat islam ketika diperintahkan untuk memperbaiki perilaku dalam segala sektor kehidupan, cukup mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah semasa beliau masih hidup. Apakah itu dalam bidang ibadah, muamalah, maupun tata kehidupan bermasyarakat lainnya. Bahkan dalam mendidik anakpun kaum muslimin dianjurkan belajar dari apa yang telah diperbuat oleh Rasul, Keteladanan Rasul ini terungkap cukup jelas dalam al-Qur`an (QS. Al-Ahzab: 21)

 

Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

 

Keteladanan Rasul dengan budi pekertinya yang agung tersebut menjadi prototype dari perilaku umat muslim dalam segala gerak geriknya. Dari gerak gerik dalam lingkup keluarga hingga gerak gerik dalam kehidupan bernegara. Dari bagaimana cara memperlakukan anak kecil, hingga bagaimana memperlakukan musuh-musuhnya.

 

Dalam kehidupan keluarga jelas sekali Rasulullah menunjukkan keteladanan yang paripurna. Kecintaan beliau kepada putera-puterinya tidak saja diucapkan, bahkan ditunjukkan dalam bentuk perbuatan nyata.   Kecintaan Rasulullah SAW kepada anak-anak tinggi sekali, hal ini terlihat dari beberapa kisah seperti terlihat berikut.

صعد رسول الله المنبر ذات يوم يخطب الناس وراءى الحسن والحسين يجريان يتعران فقطع خطبته ونزل فاستقبل الطفلين على ذراعيه ثم صعد المنبر وقال ايها الناس انما اموالكم واولادكم فتنة والله لقد رايت ابني يحريان ويتعران فما اطقت حتى نزلت فحملتهما

 

Artinya: “Pada suatu hari rasul sedang naik ke tas mimbar dan memberikan khotbah kepada manusia. Beliau melihat Al-Hasan dan Al-Husein datang, berlari dan tersandung. Seketika itu Rasul berhenti dari khotbahnya dan turun dari mimbar lalu menghampiri cucu-cucunya, menggendongnya, kemudian naik ke mimbar lagi, seraya berkata: “Hai sekalian manusia, harta dan anak-anak kamu hanyalah fitnah (ujian), demi Allah aku melihat anak cucuku berlari dan tersandung, maka aku tidak dapat menahan diri untuk turun dan menggendong mereka”

 

Pada suatu hari Rasulullah sedang bersembahyang kemudian tidak lama berselang datanglah Al-Hasan dan Al-Husein cucu beliau memanjat ke punggungnya ketika beliau sedang melakukan sujud. Beliau terus saja dalam keadaan sujud dan tidak mau mengusir mereka hingga kedua anak itu turun sendiri. Ketika beliau telah mengucapkan salam dan selesai melakukan shalat, para sahabat bertanya mengapa beliau sujud begitu lama. Beliau menjawab: “kedua anakku menaiki punggungku dan aku tidak ingin mengusir mereka, “Rasulullah biasa mempercepat shalatnya bila beliau mendengar seorang anak menangis dan berkata “Aku tidak ingin melelahkan ibunya”.

 

Keteladanan Rasul yang lain dalam hal kecintaan beliau kepada anak-anak, serta ajaran beliau bagaimana memberikan pendidikan dan kasih sayang kepada anak-anak juga ditunjukkan kepada sahabat-sahabat  beliau, jika Rasulullah SAW melihat salah seorang diantara para sahabatnya tidak mengasihi anak-anaknya, maka beliau mencemoohnya dan mengarahkannya pada hal yang akan membawa kebaikan rumah tangga, keluarga dan anak-anaknya. Imam Bukhari telah meriwatkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari `Aisyah ra:

جاء اعربي الى النبي فقال اتقبلون صبيانكم؟ فقال النبي او املك لك ان نزع الله من قلبك الرحمة

 

Artinya: “Seorang warga `arabi  mendatangi nabi SAW dan berkata: apakah golongan kamu memeluk sayang anak-anak kecil kamu. Sedang pihak kami tidak melakukannya? Maka Nabi SAW bersabda: Apakah aku berhak menasehatimu, bahwa Allah mencabut kasih sayang dari hatimu?”

 

Dalam Hadits lain yang juga diriwatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra. Berkata:

قبل رسول الله الحسن بن علي وعنده الاقرع بن حابس التممي جالس فقال الاقرع ان لي عشرة من الولد ما قبلت منهم احدا فنظر رسول الله اليه ثم قال من لا يرحم لا يرحم

 

Artinya: “Rasulullah SAW telah mencium Hasan bin `Ali, sedangkan ketika itu duduk disamping beliau Al-Aqra` bin Habis Al-Tamimi, Al-Aqra` berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tidak satupun yang pernah aku cium. Maka Rasulullah memandangnya dan bersabda: Barang siapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi”

 

 

Selanjutnya Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

 

اتى النبي (ص)رجل ومعه صبي فجعل يضمه اليه فقال النبي(ص)اترحمه ؟ قال:نعم: فالله ارحم بك منك به وهو ارحم الراحمين

 

Artinya: “Nabi SAW telah didatangi seorang laki-laki yang membawa seorang bayi, kemudian beliau meraih bayi itu kedalam pelukannya, lalu bersabda: apakah engkau menyayanginya? Laki-laki itu berkata: ya. Nabi bersabda: sesungguhnya Allah lebih menyayangi kamu dari pada kamu menyayangi dia. Dan Allah lebih mengasihi dari orang yang mengasihi.”

 

Beberapa petikan dan cuplikan kisah yang yang diriwayatkan oleh sahabat nabi tersebut menunjukkan betapa kecintaan dan kasih sayang nabi terhadap anak-anak begitu tinggi, dari pelajaran ini kita bisa memetik hikmah bagaimana seharusnya seorang muslim ketika memperlakukan anak-anak mereka bisa mencontoh apa yang telah dilakukan oleh nabinya. Dari hadits dan kisah-kisah di atas maka dalam konteks pendidikan budi pekerti ada beberapa hal bisa kita petik dari contoh dan perilaku yang ditunjukkan oleh Rasullullah.

 

Pertama, kasih sayang kepada anak kecil janganlah bersifat abstrak, harus jelas ditunjukkan dengan perbuatan. Hal ini tergambar dari kisah Al-Aqra` bin Habis At-Tamimi dimana dari kesepuluh anaknya tidak satupun yang pernah diciumnya (konteks pendidikan anak, tunjukkan kasih sayang) kepada anak-anaknya.

 

Kedua, jika kita sedang memberikan pendidikan kepada anak-anak, kita berperilaku seolah-olah seperti perilaku mereka. Ketika nabi shalat, Hasan cucu beliau naik di punggungnya, namun beliau membiarkannya tetap bermain tanpa berniat menurunkannya. Dalam konteks pendidikan untuk anak-anak bisa ditafsirkan bahwa selama perilaku dan kegiatan anak tidak membahayakan keselamatannya, maka biarkan anak-anak bermain, bereksplrorasi, bereksperimen sepuasnya sesuai dengan apa yang dia mau, sebab dalam konteks anak kecil dia masih ingin mengetahui hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Jadi konteks pendidikan, orang tua dianjurkan memberikan ruang yang cukup untuk anak-anak menemukan jati dirinya, tanpa terlalu banyak memberikan kekangan yang nantinya hanya akan menjadikan anak merasa kurang bebas.

 

Ketiga, dalam konteks pendidikan untuk anak orang tua haruslah memberikan perhatian penuh terhadap segala perilaku dan perkembangan anaknya baik itu perkembangan fisik, rasa, mental, maupun spiritual anaknya, hal ini terlihat dari kisah nabi ketika beliau sedang khutbah, beliau melihat cucunya Hasan dan Husein berlari menghampirinya dan kemudian terjatuh, dengan respectnya yang tinggi beliau menghentikan khutbahnya dan kemudian mendahulukan kepentingan cucu-cucunya tersebut. Cerita ini memberikan ibrah bahwa care  atau perhatian terhadap tumbuh berkembangnya anak-anak jangan sampai diduakan oleh hal-hal apapun seperti pekerjaan dan kegiatan lainnya, yang hanya akan menjadikan anak merasa terabaikan hak-haknya dalam mendapatkan kasih sayang orang tuanya.

 

Dari ketiga simpulan di atas maka sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah bahwa dalam konteks apapun, apakah itu dalam konteks pendidikan anak, maupun konteks kehidupan secara luas, hal yang terpenting adalah bahwa barang siapa yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi. Jika anda ingin orang sayang kepada anda, maka anda haruslah lebih dahulu menunjukkan sayang dan kasihnya kepada orang lain.