Berlaku Adil

Berlaku Adil

Penulis: Ustadz Muhammad Luthfi, Pengajar Quran Learning Centre / QLC Kids

Di dalam al-quran kata  adil sekurang-kurangnya paling tidak  tiga jenis kata dalam kesaman maknanya, yaitu al-‘adl, (العدل), al-Qisth, (القسط), dan al-wasth, (الوسط). Para ulama banyak memberikan ta’rif  (red: definisi) bentuk kata adil . kata  al-‘adl dalam al-quran bisa dilihat dalam (QS. al-Baqarah : 282), (al-Nisa: 58), dan (al-Nakhl: 90), kata al-Qisth (Ali Imran: 18,,21) (al-Nisa: 127,135), (al-Maidah: 8) dan (al-‘Araf: 29) dan kata al-wasth, terdapat dalam (QS. al-Baqarah : 143). Para ulama banyak yang memberikan ta’rif kata ‘adl, namun ada yang mudah kita fahami adalah:

اِعْطَاءُ المَرْأِ حَقَّهُ وَأَخَذَ مَاعَلَيْهِ

“Memberikan hak kepada yang memiliki hak dan mengambil dari dia yang bukan haknya.”

Ta’rif ini di ambil dari sebuah hadis Nabi saw, yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud, Imam al-Tirmidzi dan al-Nasa’i berikut hadisnya:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan hak kepada pemilik haknya, maka tidak ada hak bagi ahli warisya”

Apabila kita mengambil ta’rif ini, maka dalam implementasi kehiduapan sehari-hari yang perlu kita amalkan adalah setidaknya ada beberapa jenis keadilan, pertama  berbuat adil kepada Allah, sudah menjadi keharusan bagi setiap hambanya, yaitu dengan mengabdi, menyembah dan menyerahkan diri kepada-Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (QS. Al-Nisa: 36), hak kepada Allah ini adalah bentuk yg utama yang harus kita lakukan, Karen ini adalah bentuk kewajiban bagi setiap hamban-Nya. Kedua berbuat adil kepada Rasulullah, yaitu dengan menta’ati perintahnya dan mengikuti ajaran dan sunah-sunahnya, (QS. al-Nisa: 59, 80), (QS. al-Ahzab: 71). Ketiga berlaku adil kepada ulil pemerintah (ulil amr) sepanjang tidak memerintahkan kepada keburukan dan kejahatan, ini adalah bentuk hak yang harus dipenuh bagi masyarakat yang dipimpinnya (QS. al-Nisa: 59). Keempat kita juga harus berlaku adil kepada al-Quran dan hadis, berlaku adil terhadap al-Qur’an dan hadis dengan menggunakan situasi dan kondisi yang terjadi. Di dalam situasi dan kondisi tersebut di antaranya ada situasi damai (al-salm) dan kondisi perang (al-harb). Maka guanakanlah ayat-ayat perang ketika kondisi itu sedang berperang, bukan sebaliknya kondisi damai ayat atau hadis tentang berperang digunakan untuk membunuh orang-orang kafir dalam kondisi damai. Misalnya dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali” (QS. al-Tahrim: 9)

Rasulullah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia (orang kafir) sampai mereka bersaksi bahwa tida ada tuhan selain Allah (red:syahadat)” (HR. Bukhari)

Ayat dan hadis di atas digunakan ketika waktu damai, misalnya aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, orang-orang di dalamnya terobesi dengan ayat dan hadis di atas, padahal itu hal yang tidak tepat karena indonesia adalah negara yang damai antara musilim dan non muslim, berbeda halnya ketika ayat itu digunakan ketika di Palestina, bisa saja kita menggunakan ayat itu untuk berperang melawan israel yang kondisinya sedang berperang melawan orang-orang kafir yang memerangi orang Islam.

Selain itu juga kita diwajibkan untuk berlaku adil kepada hewan atau binatang, ini adalah keindahan dalam islam untuk bebuat adil kepada binatang hal ini Rasul bersabda: “membunuh burung pipit, maka dia akan diminta pertangungjawaban di hari kiamat nanti, sahabat bertanya: apa hak butrng untuk tidak boleh dibunuh? haknya adalah untk dimakan ketika dia membunuhnya” (HR. Ibn Majah). Wallahu ‘alam